![]() |
| Tebing Keraton |
Pagi yang dingin di Bandung (Kamis, 28 Januari 2015).
Pagi itu aku diajak meetup bareng bang Ibrahim dan Febry (cowok ya, bukan cewek. hahaha) di Sari-Sari, tepat di belakang Gedung Sate. Kenapa disitu? Karena kami akan berwisata kuliner. hahah..
Sekaligus ngobrol banyak sih. Sampai lupa aku pesen apa aja. Yang paling aku ingat adalah "Kau Mau" nama makanan. Hahaha...
Yang paling aku pengen dari kemaren sebenernya adalah es lilin. Pas di Taman Bunga Begonia sebenernya ada. Tapi kelupaan nggak kebeli. Khilaf foto-foto. Hahahah..
It's OK laah.. Udah kebales di Sari-Sari. Hah hah...
![]() |
| Meetup di Sari-Sari. Kiri-kanan : Bang Ibrahim, Gandung, aku dan Febry. |
Tak lama kami pun sampai di Tahura Ir. H. Djuanda.
Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Goa Jepang.
Goa Jepang ini terdiri dari 4 lorong utama dan 2 lorong ventilasi. Lorong ke 4 lebih besar dibandingkan ke tiga lorong lainnya karena lorong ini digunakan sebagai tempat/jalur masuk-keluar amunisi dan logistik tentara Jepang waktu itu. Ke empat lorong ini masih dalam tahap penggalian sepertinya, karena di ujung lorong tampak bekas galian yang belum rampung.
Goa buatan tentara Jepang ini mulai di gali pada tahun 1942, namun pengerjaannya belum selesai karena Indonesia sudah memerdekakan dirinya pada tahun1945. Ada kemungkinan goa ini digali oleh para pekerja paksa (romusha).
Hal ini telihat pada sisi kiri pintu 4, ada lubang galian yang belum selesai pengerjaannya (Pintu 5).
Kini goa Jepang dihuni oleh para kelelawar yang bergelantungan di dalam lorong goa.
FYI : Goa ini digali untuk penyimpanan amunisi, logistik dan komunikasi radio pada saat perang.
![]() |
| Pintu 4 (kiri) dan pintu 3 (kanan) Goa Jepang. |
Pada tahun 1980-an, saat Goa Jepang ini diresmikan sebagai kawasan wisata, pemerintah daerah memasangi lampu di langit-langit goa sebagai penerangan. Namun kini lampu-lampu itu hanya tinggal dudukannya saja. Hal ini dimanfaatkan warga sekitar (guide lokal) untuk menyewakan senter seharga Rp 10.000,00. Tapi aku juga kurang tau sih berapa tarif mereka sekali meng-guide-i wisatawan lokal atau mancanegara.
![]() |
| Papan petunjuk arah di Tahura Ir. H. Djuanda. |
Setelah selesai menjelajahi seluruh lorong Goa Jepang, kami beranjak menuju goa buatan Belanda tak jauh dari goa buatan Jepang.
![]() |
| Pintu masuk Goa Belanda. |
![]() |
| Control panel di pintu masuk Goa Belanda. |
Petualangan pun dimulai !
Goa Belanda ini memiliki tiga pintu utama. Pintu pertama berhubungan langsung dengan pintu belakang. Pintu ke dua ada di sebelah kiri pintu pertama.
Pintu-pintu goa ini sudah diberi pintu besi oleh TNI saat goa ini direbut dari tentara Jepang.
Goa ini digali para pekerja rodi yang dipaksa oleh tentara Belanda. Goa ini dulunya difungsikan sebagai saluran air. Namun, saat kependudukan Jepang, goa ini direbut oleh tentara Jepang dan digunakan sebagai tempat persembunyian, komunikasi radio dan gudang logistik.
Goa ini kembali di rebut oleh Indonesia dan dijadikan markas rahasia TNI, pusat komunikasi radio dan tempat penyimpanan logistik.
Ketika memasuki goa ini, di lantai anda akan menemukan dua buah rel di kanan dan kiri. Kemungkinan rolli ini dipasang oleh TNI untuk mempermudah pemindahan logistik. Kami berbelok ke kanan menuju lorong l
paling kanan. Di goa ini tampak dinding-dindingnya sudah di poles halus. Ada juga bekas lampu-lampu yang berada di sisi samping atap goa (penerangan ini dipaasang pada tahun 1980-an saat peresmian dilakukan oleh pemerintah daerah).
Di setiap persimpangan lorong, ada tempat khusus di atas dinding dengan jarak ketinggian dari lantai sekitar 2m. Saat kami bertanya apa funsi tempat itu, guide kami juga tidak paham benar.
Menurut sepupuku, diduga ini adalah tempat tidur tentara Belanda waktu itu.
Di tengah-tengah perjalanan, ada sebuah lorong yang difungsikan sebagai ruang tahanan lengkap dengan pintu bajanya yang sekarang tidak dapat di naik dan turunkan lagi karena sudah aus termakan usia.
Tidak seperti di goa Jepang, di Goa Belanda ini tercium bau anyir darah. Mungkin ini hanya perasaanku saja. Hehe..
Kami sampai di pintu belakang goa Belanda, kami kira perjalanan ini sudah berakhir, ternyata masih ada satu lorong lagi yang akan kami telusuri.
Di lorong ini ternyata berujung di pintu ke dua.
Saat kami akan berpindah ke lorong terakhir, ada sebuah besi yang terpalang di atas kami. Bukan pipa besi, tapi besi padat. kami bertanya apa fungsi dari besi ini. Tapi lagi-lagi pertanyaan kami tak terjawab, karena guide kami tidak tahu banyak tentang goa Belanda ini.
*salah pilih guide nih kayaknya. Hahahah..
Pada saat kami menelusuri lorong terakhir ini, ada beberapa bagian dinding goa yang di tambal (ditutup maksudnya) dengan batu bata dan semen, kemungkinan masih ada ruangan di balik tembok itu.
di pertengahan lorong, di samping kanan kami ada dua buah ruangan yang memang sengaja di tutup dengan batu bata merah dan semen. Tapi entah siapa yang menutup ruangan itu dan apa maksdunya.
Menurut penuturan guide kami, ruangan itu dulu tertutup dan di jebol oleh TNI karena penasaran ada apa di dalam sana. ternyata tidak ada apapun kecuali lorong yang belum selesai digali. Kemungkinan galian ini dilakukan oleh pihak tentara Jepang.
Kami sangat penasaran dengan ruangan yang di tutup dengan batu bata dan semen saat awal kami menelusuri lorong terakhir ini..
Di ujung perjalanan kami menelusuri goa ini, kami di lewatkan pada sebuah lorong yang kemungkinan besar adalah pusat pengendalian radio, hal ini diperkuat dengan bekas besi-besi tua penahan radio dan sebuah tuas yang telah aus temakan usia.
Perjalanan menelusuri goa Belanda berakhir disini.
Aah.. sayang, aku lupa mengabadikan moment didalam. huhuhu..
*Jangan lupa siapkan senter/alat penerangan jika anda ingin kesini.
Masih di lingkungan Tahura Ir. H. Djuanda.
Kami mampir sebentar ke jembatan gantung dekat Goa Belanda.
Jembatan ini tepat berada di sebuah air terjun dengan bebatuan hitam yang tampak tajam.
Kemudian kami menuju ke sebuah penampungan air yang nanti di teruskan ke pembangkit listrik tenaga air.
![]() |
| Jembatan gantung di Tahura Ir. H. Djuanda. |
![]() |
| Penampungan air. |
Perjalanan kami lanjutkan menuju ke Tebing Keraton. Dari lokasi kami saat ini, kami harus keluar wilayah Tahura terlebih dahulu. Tapi tenang! Tiket masuk kawasan tebing Keraton ini sudah termasuk tiket masuk di Tahura Ir. H. Djuanda tadi (Rp 64.000,00/4 orang)
Jalur menuju tebing Keraton sangat menanjak dan tiba-tiba muncul polisi tidur. hahahaha...
*kurang ajar banget tuh polisi tidur muncul setiap saat, di setiap tanjakan pula. kan syakidd.. huhuu...
Setelah perjalanan menanjak panjang dan melelahkan, wuallaaa...
Sampailah kami di Tebing Keraton!
Yiihaa...
Hahahha..
Tapi, kami masih ditarik uang parkir Rp 5.000,00 disini. Kan syakid...
![]() |
| Ujung Tebing Keraton tampak jelas. |
![]() |
| Pemandangan dari atas Tebing Keraton. Inframe: ?? |
![]() |
| Yess!! Pose kemenangan. Hahahah... |
Huhu...
Tapi, ternyata memang hasil fotonya keren kok.
Nggak nyesel kesini.
Hahaha...
Wes.. Pokokmen kita foto-foto ceria disini. Hahaha..
Selesai berfoto ria di Tebing Keraton, kami langsung turun menuju Bandung. Di pertengahan perjalanan kami mampir warung makan Tegal untuk mengisi perut. Hahahah...
Sesampainya di Bandung, kita mampir dulu di Gedung Sate. Kita foto-foto cihuy dulu disitu. Hahaha...
Bang Ibra juga menceritakan sejarah panjang dibangunnya Gedung Sate ini dari rencana perpindahan pusat kepemerintahan Belanda dari Batavia ke Bandung, hingga proses pembangunan Gedung Sate ini.
Sedikit cuplikan postingan Bang Ibra di akun Facebooknya :
Gedung Sate
Gedung ini punya nilai sejarah dinegeri kita ini sebab dahulu hindia belanda membangun gedung ini untuk dijadikan kantor pemerintahan hindia belanda menggantikan yang di betawi namun karena adanya perang dunia 1 maka pemindahan pusat pemerintahan hindia belanda dari betawi ke bandoeng ditunda.
Gedung ini dibangun dengan begitu banyak pekerja, 150 orang diantaranya didatangkan langsung dari daratan china sebagai tukang ahli, ahli ukiran ornamen ornamen yang masih bisa kita lihat sampai saat ini aseli.
Gedung yg dibangun dengan 2000 orang pekerja yang dibayar bukan kerja paksa, total biaya pengerjaannya itu senilai 6 juta gulden dengan masa pengerjaannya selama 4 tahun. Oleh karena itulah tiang penangkal petir diatas menara pandang yg didalamnya terdapat sirene yang dahulu bisa terdengar sampai 20 km suaranya itu dibuatb spt tusukan sate dengan berisi 6 bulatan menandakan gedung ini menghabiskan dana totalnya 6 juta gulden belanda.
Oleh
karena nilai sejarah gedung ini maka banyak wisatawan yang merasa wajib
untuk mengunjungi gedung sate ini, minimal sekedar melihatnya dari depan
seperti ini.
Gedung ini adalah kantor gubernur Jawa Barat jadi agak perlu ijin buat bisa masuk sekedar melihat lihat jejak sejarahnya.
Jadi wisatawan cukup dengan berfoto didepan gerbangnya saja.
Nuhun temanku dari Jogjakarta dan medan yang sudah wisata sejarah kota kami ini beberapa waktu lalu.
Gedung ini adalah kantor gubernur Jawa Barat jadi agak perlu ijin buat bisa masuk sekedar melihat lihat jejak sejarahnya.
Jadi wisatawan cukup dengan berfoto didepan gerbangnya saja.
Nuhun temanku dari Jogjakarta dan medan yang sudah wisata sejarah kota kami ini beberapa waktu lalu.
![]() |
| Mejeng bentar di depan Gedung Sate. |
Huhu...












Tidak ada komentar:
Posting Komentar