Selasa, 02 Februari 2016

Melihat Keganasan Lumpur Lapindo dan Patung Survivor (Main ke Jatim part 4)

Patung Survivor

MONUMEN TRAGEDI LUMPUR LAPINDO

LUMPUR LAPINDO TELAH MENGUBUR KAMPUNG KAMI
LAPINDO HANYA MENGOBRAL JANJI PALSU
NEGARA ABAI MEMULIHKAN KEHIDUPAN KAMI
SUARA KAMI TAK PERNAH PADAM
AGAR BANGSA INI TIDAK LUPA
29 MEI 2014 

Begitulah kiranya kalimat yang tertulis di sebuah monumen yang dibuat sendiri oleh warga korban lumpur Lapindo. 

Monumen Lumpur Lapindo

Tegak berdiri sebuah tiang dari bambu di sisi monumen dengan bendera Merah-Putih  yang sudah koyak berkibar-kibar di ujungnya.
Terdapat beberapa gubug berdenah U, mungkin gubug-gubug ini digunakan untuk pameran foto dan barang-barang bekas kerusakan yang terjadi akibat bencana lumpur panas Lapindo.
Berdiri tegak patung berbaju kuning, bercelana hitam dan mengenakan kacamata. Kedua tangan patung itu menyilang di depan dengan sebuah ikatan. Kalau tidak salah di ikat dengan rantai.
Menurut pak Fadeli (sound like that, seorang warga yang rumahnya tenggelam akibat bencana lumpur panas ini), patung ini adalah gambaran dari kemarahan warga korban lumpur Lapindo kepada Bakrie. Bentuk protes yang di ungkapkan agar Indonesia tau bahwa Bakri tidak pernah mengulurkan tangannya dan menyentuh para korban.

Bendera Merah-Putih

Patung Bakri


 
Gubug

Berdiri 110 patung survivor di bagian utara monumen lumpur Lapindo. Patung-patung setinggi 2m, dan di instalasikan tepat 8 tahun setelah rumah--rumah warga tenggelam. Patung ini menggambarkan penderitaan warga korban lumpur panas Sidoarjo dan berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Kini patung-patung ini sudah tenggelam hingga ke leher patung. Walaupun sebagian hanya terendam lumpur di bagian kakinya saja.

Sebagian patung survivor yang tenggelam.


Terlihat patung Bakri lebih besar dari patung-patung survivor.


 Penasaran, aku berkeliling tanggul lumpur Lapindo. Lumayan jauh, hingga sampai ke pusat penyedotan lumpur panas yang nantinya akan di buang ke sungai dan bermuara ke laut. Disini terdapat beberapa mesin penyedot lumpur, mesin pengeruk lumpur yang berada di atas pelampung besar, dan ada beberapa barak untuk para pekerja yang terbuat dari kontainer. Aku melanjutkan perjalanan menuju ke titik semburan lumpur panas.
Terlihat satu titik dari kejauhan dengan asap putih tebal dengan gelembung-gelembung panas yang muncul dari perut bumi. Gelembung-gelembung itu adalah gas yang keluar ke permukaan tanah akibat pengeboran yang dilakukan oleh pihak Lapindo.

Entah bangunan apa ini



Hamparan luas lumpur kering.


Semburan lumpur panas.

Aspirasi korban lumpur panas Lapindo.
 Ada sebuah papan yang ditancapkan ke lumpur dengan tiangnya. Papan itu berisi tulisan tangan yang menanyakan kapan pihak lapindo akan membayar kerugian para korban lumpur panas. Terlihat penuh amarah di dalam tulisan itu.

Sebuah sepatu kulit.



Padang tandus yang sebenarnya adalah lumpur kering.



Jalan menuju titik semburan lumpur.

 Tak tahan dengan bau gas yang dikeluarkan dari ririk semburan, aku berkeliling tanggul kembali. Terlihat satu alat berat sedang memperbaiki dinding tanggul. Tampak pula dari kejauhan, sebuah masjid yang tidak terkena dampak semburan lumpur panas Lapindo. Namun, masjid megah ini sudah tidak digunakan lagi.

Alat berat yang menguatkan tanggul.



Masjid megah yang tak terpakai akibat bencana lumpur panas Lapindo.


 Karena hari sudah hampir gelap, tak lupa aku mengabadikan matahari tenggelam dari sudut tanggul lumpur Lapindo.
Matahari terbenam di sudut tanggul lumpur Lapindo.
 Lumpur Lapindo yang berada di dalam tangggul akan di pompa dan di alirkan ke sungai dengan pipa-pipa besar. Ada beberapa pipa, namun hanya ada satu pipa saja yang difungsikan. Harapannya, lumpur yang dialirkan ke sungai dapat mengalir langsung ke laut. Tak terelakkan, sungai dan laut kini tercemar dengan lumpur dari Lapindo.

Saluran pembuangan lumpur ke sungai


Foto bersama pak Fadeli


Tidak ada komentar:

Posting Komentar