| Pemandangan indah dari Gili Nyai. |
Setelah asik main di pantai Batu Bengkung, kemudian kami melanjutkan perjalanan ke pulau Madura sore itu juga. Namun kami harus berpisah, aku dan mas Ris berboncengan, mbak Arris dan pak Eko menggunakan bus, sedangkan mbak Reni dan mas Sadam tidak bisa menemani kami.
Huhu.. sedih harus berpisah sekarang.
Kami bertemu di jalan setelah menyeberangi jembatan Suramadu. Berkendara bersama-sama dengan puluhan kendaraan roda dua menuju destinasi wisata lainnya (so pasti temen baru. yeah!!).
Setelah semua komplit, yukk mari cuss ke tempat lain (akunya nggak tau nih bakalan dibawa kemana. Hehehe...).
Ternyata kami dibawa ke lokasi Api abadi di Madura. yuhuu... Malem-malem jadi anget. hahaha...
![]() |
| Api Abadi Madura |
Ada dua titik sih. Pertama kami mengunjungi titik nyala api yang memang sudah ramai dengan warung oleh-oleh dan penjual jagung. Titik ke dua, agak jauh dari titik pertama. Titik kedua sangat sepi, dan dekat dengan makam. Aku tidak dapat melihat apa saja yang ada di sekeliling karena sangat gelap. Mungkin ladang warga ada di sekitaran api abadi tersebut.
Setelah kami puas mengunjungi tempat ini, kami bergegas untuk istirahat di rumah mbak Arris di Madura.
Waktu subuh pun tiba. Y uhuuu...
Petualangan pun dimulai...
Yuk.. Cuss hunting sunset di Pamekasan....
Nangkring di atas tanjung yang aku lupa namanya, Hehe.. Nyebarlah semua ke penjuru tanjung untuk berfoto ria.
| Sunrise di Pamekasan |
Prau sudah siap berlayar (halah.. padahal pake mesin diesel. Hahah..).
Saatnya berpetualaang!!!
Sebelum menaiki perahu nelayan, kami mampir sebentar di tempat penjemuran hasil laut. Kami hunting foto human interest disitu. Heuheu..
Lainnya menggunakan kamera DSLR, akunya pede aja pake camera digital. toh hasilnya juga lumayan (daripada lumanyun).
| Nelayan yang sedang menjemur hasil laut. |
| Jalan menuju dermaga sederhana milik nelayan. |
![]() |
| Niatnya mau ngambil foto, malah difoto.Hahahaha... |
| Barisan prau khas Madura tertambat. |
Kenapa?
Karena perahu tidak dapat ke tengah lautan. Air kurang tinggi.
Akhirnya para punggawa pun harus turun ke air untuk mendorong perahu agar mau ketengah.
Yiiihaaa...
Perahu sudah mengapung. Saatnya menjadi pelaut dalam sehari..
hahaha..
| Yeaayy.. Jadi pelaut seharian. Hahaha... |
Gili Nyai. Hahaha...
2 jam perjalanan menggunakan perahu bermesin diessel.
Agak bouring juga sih. Soalnya para penumpang ada yang mabuk dan semuanya tertidur. Wolooo... aku dewean rek...
Wah.. Asiikk..
Nggak jadi sendirian. Hahahaha..
Nelayannya ngajakin ngobrol gitu. Ya walaupun kadang bahasanya susah aku pahami.
Selain karena aku nggak terlalu paham nahasa Madura pesisir, suara bapaknya juga tenggelam karena bising suara mesin diessel.
Huhu..
Tapi asik kok. Bapaknya cerita dulu salah satu pulau yang dinamai Gili Keramat ada 2 makam yang memang dikeramatkan. Ada beberapa lampu di lautan yang dipasang khusus untuk menerangi Gili Keramat. Tapi sekarang lampu-lampu itu sudah lenyap dijarah orang-orang tak bertanggung jawab.
Si bapak juga bercerita bahwa dulunya Gili Keramat ini memiliki 1km bibir pantai dengan pasir putih. Tapi sekarang lenyap karena pasir yang ada di Gili Keramat telah disedot dengan alat penghisap pasir di perahu-perahu penambang pasir laut. Hiiisshh.. kejem banget sih!!
Sekarang gili Keramat tinggal batuan-batuan karang yang kadang timbul-tenggelam tersapu ombak.
Ditengah perjalanan, kami melihat sekumpulan perahu penambang pasir laut yang berbaris membentuk lingkaran.
Mereka menambang pasir bagai semut. Disitu ada gula, pasti semut datang bergerombol.
Mungkin para pembaca bertanya-tanya kenapa pasir laut ditambang?
Hal ini dilakukan karena di pulau Madura tidak terdapat gunung berapi (vulkanik) yang dapat menghasilkan pasir-pasir dan batuan berkualitas baik. Struktur batuan di pulau Madura adalah batuan kapur.
Warga yang ingin membangun rumah harus mendatangkan pasir dari daerah Jawa Timur atau lainnya. Harga Pasir dari luar daerah sangat mahal karena transportasinya memang mahal.
Jadi, cara lainnya adalah mengambil pasir laut. Selain lebih murah, mereka juga dapat mengambilnya dari dekat rumah.
Duh.. Miris sebetulnya.
Oke, Kembali ke destinasi pertama.
Gili Nyai berada dekat dengan Gili Pandan dan Gili Keramat.
Gili nyai adalah pulau yang berpenghuni. Gili pandan dan Gili keramat adalah pulau tak berpenghuni.
| Melaut lagi |
Yeaaayy!!!
Merapat di Gili Nyai vrooh!!
Hahahha...
Sumpah, keren abiss..
Bener-bener serpihan surga yang hilang!!
| Seperti laguna, seperti teluk, pokoknya indaahh... |
Ternyata mereka sedang mengolah ikan teri !
Hahah..
Sembari mengamati proses pengolahannya, kami ditawari ikan-ikan ekor kuning dan cumi-cumi (menurut mereka limbah, karena yang mereka olah adalah ikan teri).
Aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini.
Yo'i vrooh...
Jiwa survivalnya muncul vrooh!
Hahahha...
Aku langsung mencari kayu kecil untuk menusuk cumi-cumi yang diberikan secara cuma-cuma itu. Hahahah...
Langsung aku panggang di perapian.
*nunut masak mbok! haha..
Pas lagi asik-asiknya bakar cumi, ada ibu-ibu (mungkin umur 70an ke atas lah ya), mengajakku berbincang.
Pakek bahasa lokal pesisiran!!
Mampus aku!
Gagal paham Boss!
Hahaha..
Dan nggak ada satupun dari mereka yang bisa berbahasa Indonesia. kami sebagai pendatang (wisatawan lokal) merasa berada di negara lain di dalam negara sendiri (aku kutip dari mas Ris).
Nyesek rasanya. Masih satu kewarganegaraan tapi kok nggak bisa saling berkomunikasi.
Parahnya, aku pakek bahasa tarzan pun si ibu tetep nggak paham. Hahaha..
Yowislah. Bedo frekuensi.
Percakapan-- END!
| Merebus ikan teri. |
| Menjemur ikan teri. |
Keren yah!
Nelayan disini menggunakan kerang sebagai pemberat di jaring-jaring mereka. Kreatifitas dalam keterbatasan.
| Aah... I love this picture! |
Setelah puas berkeliling di Gili Nyai, kamimelanjutkan perjalanan ke Gili Pandan. Gili yang tak berpenghuni. Konon, dulu banyak tanaman pandan laut disini. Tapi saat kami berlabuh di Gili Pandan, tak satupun tanaman pandan laut yang saya temukan. Bahkan pulau ini kering.
Hanya butuh waktu beberapa menit untuk mengelilingi pulau ini. pasirnya begitu putih dengan ombak yang tenang.
| Gili Pandan dari tengah laut. |
| Dia nunjuk apaan? Entahlah. |
| So... Sepiii... |
| Mulai berkeliling Gili Pandan. |
| Struktur lapisan tanah di Gili Pandan |
| Enaknya bersantai di tepi pantai layaknya berada di pulau pribadi. |
| I feel free... |
Perjalanan terakhir hari itu di Gili Pandan sangat mengesankan.
Hari sudah beranjak sore. Kami harus mengakhiri kesenangan kami disini.
Perjalanan mengarungi lautan selama 2 jam kembali kami mulai.
Ternyata Keseruan tak hanya berakhir disiru saja.
Hahaha..
Perahu kami tidak dapat merapat ke daratan. Kami harus turun dan berjalan menuju daratan dengan air laut setinggi paha kami. Hahahah...
Yeaay..
Seruuu... musti basah-basahan dulu sebelum mencapai daratan. Hahahaa...
Setelah itu, kami kembali ke rumah mbak Arris untuk makan malam.
seesai makan malam, kami berpamitan untuk langsung melakukan perjalanan menuju Jogja.
Yo ketoki cen ngebuuut banget sih, dua hari dapet 5 destinasi. Jaraknya pun lumayan jauh.
But, main-main ke gili-gili adalah bayaran atas semua kelelahan yang telah dilalui. Hahahaha...
"I will go back here!"
Itu kalimat yang terucap di hati saat akan meninggalkan Gili Pandan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar