Kamis, 04 Februari 2016

1 Jam Menjelajahi Museum Ullen Sentalu

Ruang istirahat pengunjung museum.

Hari Kamis 4 Februari 2016 kemarin aku iseng blusukan ke desa-desa atas Kab, Sleman.
Eh.. nggak taunya malah masuk kawasan wisata Kaliurang. Hahahah..
Ora tuku tiket mlebu dadine.
Jalurnya lumayan membingungkan, masuk-masuk ke perkampungan warga.
Yowes lah, terlanjur masuk Kaliurang. Sekalian muter-muter.

Sesampainya di atas, ada papan penunjuk arah ke museum Ullen Sentalu.
Merasa penasaran, akhirnya aku ikuti petunjuk arah itu.

Pintu masuk Museum Ullen Sentalu.

Taraa...
Sampailah aku di muka Museum Ullen Sentalu.
Dari parkiran kendaraan bermotor, aku menuju ke pintu masuk. Ternyata aku di arahkan ke sebelah kiri pintu masuk untuk membeli tiket terlebih dahulu.

Jalan menuju loket.

FYI : Hari Senin Museum ini tutup, sama seperti Museum Merapi yang letaknya tak jauh dari Museum Ullen Sentalu.
Harga tiket dan jam buka Museum Ullen Sentalu.


Tiket masuk wisatawan domestik dewasa Museum Ullen Sentalu.


Setelah membeli tiket seharga Rp 30.000,00 rupiah (wisatawan lokal dewasa), aku kembali menuju ke pintu masuk Museum UllenSentalu. Harga ini termasuk fasilitas pemandu dan wellcome drink. Mulut gatel pengen tau, aku bertanya kepada mbak-mbak penjaga pintu masuk museum (bukan patung ya. heheh..). Aku mendapatkan penjelasan bahwa untuk mengunjungi museum ini, wisatawan akan mendapatkan seorang pemandu untuk maksimal 25 orang per grup tour. Jika anda bersama rombongan 50 orang misal, rombongan anda akan dibagi menjadi 2 grub tour dengan waktu jeda sekitar 15 menit.
Untuk weekday (Selasa-Jumat), jeda dari setiap grup tour adalah 15 menit, dan untuk weekend jedanya adalah 5 menit saja.

FYI : Ada peraturan tertulis di Museum ini. Yaitu beberapa larangan untuk wisatawan yang berkunjung ke museum ini adalah :  DILARANG MEMOTRET/MEREKAM/VIDIO, MENYENTUH KOLEKSI, MEROKOK, MAKAN DAN MINUM.
Larangan-larangan ini ditempel di setiap pintu masuk area.
Kenapa tidak boleh berfoto?
Hal ini dikarenakan barang-barang koleksi milik museum adalah hibah dari keraton (sebagian), jadi memang dilarang untuk mengabadikannya.
Tapi tenang..
Ada beberapa tempat kok untuk foto-foto. Tapi di luar ruangan. heheh...
Luas area museum ini sendiri adalah 1,2 hektar dengan kawasan museum, taman, butik dan rumah makan western mennu.


Informasi pengunjung.

Kenapa diberikan jeda untuk grup tour?
Hal ini dilakukan untuk memaksimalkan kenyamanan wisatawan dan mengurangi resiko pencurian (dapat diawasi dengan maksimal karena koleksi museum tidak boleh dipegang). Selain itu, karena petualangan ini akan melewati sebuah lorong goa, maka pembatasan pengunjung setiap tour dan jeda pertour perlu dilakukan agar pengunjung mendapatkan kenyamanan maksimal (feelnya dapet laah.. dan tidak kekurangan oksigen. hahhah.. ben abab e ora entek)

Karena aku datang sendirian, maka aku bergabung bersama teman-teman dari kota Bandung.
Yuhuu.. waktunya menjelajah museum!!
hahah...
Pintu masuk terbuka, disambut senyum ramah pemandu cantik dari balik pintu.
*eeaa..
Mungkin kalau aku laki-laki, aku bakalan klepek-klepek deh. Hahah...

Oke cuss..
Setelah pemandu memperkenalkan diri (kebetulan aku dan kawan-kawan dipandu mbak Sulvi kalo nggak salah. hahahaha.. aku kan pelupa), kami di ajak menelusuri lorong goa bawah tanah berdinding batu alam dan beratap rendah (di awal) bernama Goa Selagiri (Sela berarti batu, giri berarti gunung dalam bahasa Jawa). Goa Selagiri dibangun dengan bebatuan vulkanik dari tambang batu di sekitar museum dengan menggunakan tenaga ahli lokal.
Atap muka goa dibuat rendah (memaksa kita menundukkan kepala saat memasuki area goa) agar kita selalu tau diri dan tidak sombong.

Saat memasuki area goa, kami disuguhi arca-arca asli (pinjaman) maupun replika, alat-alat musik tradisional hibah dari keraton Jogja dan berbagai lukisan tokoh-tokoh Kerajaan Mataram dan lukisan para penari.
Oleh pemandu, kami dibawa masuk ke zaman kerajaan Mataram di masa lalu, Mulai dari berdirinya kerajaan Mataram Hindu hingga Kerajaan Mataram terpecah menjadi empat Kerajaan hingga kini.
Di dalam goa Selagiri disuguhkan banyak lukisan-lukisan (buatan tim pelukis museum yang di contoh dari foto-foto asli di dalam kerajaan) tentang Raja Hamengkubuwono IX, pangeran Bobi, dan puteri-puteri Mataram lainnya.
Di penghujung goa, kita akan meniti beberapa buah anak tangga menuju ke atas. Anak tangga ini merefleksikan anak tangga-anak tangga di pemakaman Raja-Raja di Imogiri Bantul.

Setelah menjelajahi goa Selagiri, pengunjung dibawa ke area kedua, yaitu Kampung Kambang. Sesuai namanya, area ini dibangun dengan konsep perkampungan yang mengambang di atas air. Pengunjung akan merasa berada di atas air. Kampung Kambang yang terletak diatas air (mengambang) dibangun menyerupai kampung rumah orang Kalang yang tinggal di ibukota kuno Mataram Kini atau Mataram Islam periode Pertama (Mataram Islam periode Kedua adalah kurun waktu setelah perjanjian Giyanti) di Kotagede dengan jalanan sempit menyerupai gang dan dibuat berkelak-kelok menyerupai struktur labirin Minoan. Pengunjung yang tidak ditemani oleh educator tour akan mudah tersesat.
Rumah Pertama yang dikunjungi adalah ruang pamer koleksi Keraton berupa pakaian pengantin Dodot di era Mataram lama dan Mataram Islam dan beberapa topi koleksi milik Keraton.
Di rumah ke dua, pengunjung akan dimanjakan beberapa koleksi batik dari Keraton Solo.
Rumah ke tiga menyajikan koleksi batik-batik dari keraton Jogja.
Di rumah ke empat para pengunjung akan disuguhi puisi-puisi penyemangat untuk Puteri Patah Hati disini. Puisi-puisi ini berbahasa Indonesia dengan gaya penulisan masa Belanda dan bahasa Belanda. Puisi-puisi ini di terjemahkan ke dalam beberapa bahasa yaitu bahasa Indonesia, Belanda, Inggris dan Jepang. Ruangan ini menceritakan seorang Putri Raja yang ingin menikah dengan putra Raja dari selir yang ditentang oleh ibu permaisuri selama 20 tahun.
Di rumah terakhir kita akan memasuki ruangan Puteri Dambaan. Berbeda jauh dengan cerita Puteri patah hati, di ruangan ini pengunjung akan diajak menyelam pada masa Puteri Kembang Mataram semasa hidupnya. Sang Puteri sangat modis, cantik alami, pandai menari hingga disebut sebagai Mataram Blosom's princes. Selain pandai menari, sang putri juga terkenal senang membantu ayah dalam kegiatan politik kerajaan.
Sang putri menjadi sorotan karena hobi menunggang kuda. Konon, rakyat rela berjajar di pagar istana untuk melihat sang Putri berlatih menunggang kuda.
Sang Putri Bunga Mataram ini menguasai 3 bahasa sekaligus (Belanda, Inggris dan ... aduh lupa. hahaha.. Bahasa Perancis sepertinya).
Tak hanya menjadi kembang pada masanya, tapi beliau juga sering menolak pinangan (antara lain dari alm, raja Hamengkubuwono IX dan IR. Soekarno). Namun akhirnya pinangan yang diterima adalah pinangan dari seorang perwira TNI pada masa itu (masih dari kalangan keraton) dan tinggal di Bandung.
Beliau tutup usia pada tahun 2015 lalu.
FYI : Ruang Putri Dambaan pada 2002 yang diresmikan oleh GRAy Siti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani sendiri (sang Puteri Dambaan).

Dari Kampung Kambang, pengunjung diajak beristirahat di sebuah bangunan yang di design dengan arsitektur Jawa kental. Disini pengunjung akan disuguhkan minuman yang katanya ramuan awet muda, Yaitu Jamu Ratu Mas. Resep Rahasia Jamu Ratu Mas ini konon ciptaan dari GRAy Siti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani yang khusus disuguhkan saat jamuan residen Belanda di Solo.





Jamu awet muda Jamu Ratu Mas
 Setelah beberapa menit beristirahat, rombongan akan dibawa ke ruangan baru milik museum. Di tengah perjalanan ada spot foto yang dibilang lumayan lah. Hehe..

Ruang istirahat khusus pengunjung Museum Ullen Sentalu.




Bangunan di ujung jalan adalah kediaman pemilik Museum Ullun Sentalu.


Masuk ke area terakhir museum, pengunjung akan di suguhi lukisan-lukisan Raja Hamengkubuwono X bersama sang isteri. Selain itu, ada beberapa lukisan pengantin perempuan yang tengah mengenakan dodot.
Ada dua patung pengantin perempuan di ujung museum ini. Di ujung sebelah kiri, ada patung pengantin perempuan dengan paes Ageng gaya Keraton Solo, sedangkan patung di ujung kanan adalah patung pengantin perempuan dengan gaya dodot Keraton Yogyakarta.

Tour berakhir pada sebuah panggung terbuka yang biasanya dibuka untuk kelas menari anak-anak sekitar museum. Panggung terbuka ini dilatarbelakangi sebuah cuplikan relief  Gandavyuha, panel 30, lantai 2 candi Borobudur. Relief ini menggambarkan seorang kaya raya yang meninggalkan seluruh hartanya untuk belajar Budha kepada 12 guru.

Mengapa pemasangan relief dibuat miring?

Hal ini menggambarkan keadaan manusia di jaman sekarang yang lupa akan tradisi dan silau akan harta.

Pengunjung bebas berfoto ria disini. Hahai...

Cuplikan Relief Gandavyuha, panel 30, lantai 2 candi Borobudur.


Miring yuuukk...
Memang sangat minim foto-foto yang dapat aku lampirkan, karena memang mengabadikan moment disin sangat dibatasi. But, jika kamu penasaran, yuk datang aja ke Musem Ullen Sentalu yang berada di kawasan wisata Kaliurang ini.

Tour berakhir disini. 50-60 menit yang sangat berkesan.

Terima kasih sudah berkenan membaca :)


Selasa, 02 Februari 2016

Tahura Ir. H. Djuanda (Kesasar di Jawa Barat part 2)



Tebing Keraton

Pagi yang dingin di Bandung (Kamis, 28 Januari 2015).

Pagi itu aku diajak meetup bareng bang Ibrahim dan Febry (cowok ya, bukan cewek. hahaha) di Sari-Sari, tepat di belakang Gedung Sate. Kenapa disitu? Karena kami akan berwisata kuliner. hahah..
Sekaligus ngobrol banyak sih. Sampai lupa aku pesen apa aja. Yang paling aku ingat adalah "Kau Mau" nama makanan. Hahaha...
Yang paling aku pengen dari kemaren sebenernya adalah es lilin. Pas di Taman Bunga Begonia sebenernya ada. Tapi kelupaan nggak kebeli. Khilaf foto-foto. Hahahah..
It's OK laah.. Udah kebales di Sari-Sari. Hah hah...


Meetup di Sari-Sari. Kiri-kanan : Bang Ibrahim, Gandung, aku dan Febry.
Setelah beberapa lama (killing the time aja sih sebenernya) ngobrol ngalor ngidul di sini, kami langsung cuss main ke Tahura Ir. H. Djuanda.

Tak lama kami pun sampai di Tahura Ir. H. Djuanda.
Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Goa Jepang.
Goa Jepang ini terdiri dari 4 lorong utama dan 2 lorong ventilasi. Lorong ke 4 lebih besar dibandingkan ke tiga lorong lainnya karena lorong ini digunakan sebagai tempat/jalur masuk-keluar amunisi dan logistik tentara Jepang waktu itu. Ke empat lorong ini masih dalam tahap penggalian sepertinya, karena di ujung lorong tampak bekas galian yang belum rampung.
Goa buatan tentara Jepang ini mulai di gali pada tahun 1942, namun pengerjaannya belum selesai karena Indonesia sudah memerdekakan dirinya pada tahun1945. Ada kemungkinan goa ini digali oleh para pekerja paksa (romusha).
Hal ini  telihat pada sisi kiri pintu 4, ada lubang galian yang belum selesai pengerjaannya (Pintu 5).

Kini goa Jepang dihuni oleh para kelelawar yang  bergelantungan di dalam lorong goa.
FYI : Goa ini digali untuk penyimpanan amunisi,  logistik dan komunikasi radio pada saat perang.

Pintu 4 (kiri) dan pintu 3 (kanan) Goa Jepang.
Goa ini digali dari bagian atap terlebih dahulu, baru digali bagian bawahnya. Tujuannya adalah agar tidak rubuh saat penggaliannya.
Pada tahun 1980-an, saat Goa Jepang ini diresmikan sebagai kawasan wisata, pemerintah daerah memasangi lampu di langit-langit goa sebagai penerangan. Namun kini lampu-lampu itu hanya tinggal dudukannya saja. Hal ini dimanfaatkan warga sekitar (guide lokal) untuk menyewakan senter seharga Rp 10.000,00. Tapi aku juga kurang tau sih berapa tarif mereka sekali meng-guide-i wisatawan lokal atau mancanegara.

Papan petunjuk arah di Tahura Ir. H. Djuanda.


Setelah selesai menjelajahi seluruh lorong Goa Jepang, kami beranjak menuju goa buatan Belanda tak jauh dari goa buatan Jepang.

Pintu masuk Goa Belanda.
Tidak terlalu banyak informasi yang kami dapatkan dari guide yang mengantar kami masuk berkeliling ke dalam goa ini. Karena orang yang mengetahui seluk-beluk goa ini telah wafat.

Control panel di pintu masuk Goa Belanda.

Petualangan pun dimulai !
Goa Belanda ini memiliki tiga pintu utama. Pintu pertama berhubungan langsung dengan pintu belakang. Pintu ke dua ada di sebelah kiri pintu pertama.
Pintu-pintu goa ini sudah diberi pintu besi oleh TNI saat goa ini direbut dari tentara Jepang.
Goa ini digali para pekerja rodi yang dipaksa oleh tentara Belanda. Goa ini dulunya difungsikan sebagai saluran air. Namun, saat kependudukan Jepang, goa ini direbut oleh tentara Jepang dan digunakan sebagai tempat persembunyian, komunikasi radio dan gudang logistik.
Goa ini kembali di rebut oleh Indonesia dan dijadikan markas rahasia TNI, pusat komunikasi radio dan tempat penyimpanan logistik.
Ketika memasuki goa ini, di lantai anda akan menemukan dua buah rel di kanan dan kiri. Kemungkinan rolli ini dipasang oleh TNI untuk mempermudah pemindahan logistik. Kami berbelok ke kanan menuju lorong l
paling kanan. Di goa ini tampak dinding-dindingnya sudah di poles halus. Ada juga bekas lampu-lampu yang berada di sisi samping atap goa (penerangan ini dipaasang pada tahun 1980-an saat peresmian dilakukan oleh pemerintah daerah).
Di setiap persimpangan lorong, ada tempat khusus di atas dinding dengan jarak ketinggian dari lantai sekitar 2m. Saat kami bertanya apa funsi tempat itu, guide kami juga tidak paham benar.
Menurut sepupuku, diduga ini adalah tempat tidur tentara Belanda waktu itu.
Di tengah-tengah perjalanan, ada sebuah lorong yang difungsikan sebagai ruang tahanan lengkap dengan pintu bajanya yang sekarang tidak dapat di naik dan turunkan lagi karena sudah aus termakan usia.
Tidak seperti di goa Jepang, di Goa Belanda ini tercium bau anyir darah. Mungkin ini hanya perasaanku saja. Hehe..
Kami sampai di pintu belakang goa Belanda, kami kira perjalanan ini sudah berakhir, ternyata masih ada satu lorong lagi yang akan kami telusuri.
Di lorong ini ternyata berujung di pintu ke dua.
Saat kami akan berpindah ke lorong terakhir, ada sebuah besi yang terpalang di atas kami. Bukan pipa besi, tapi besi padat. kami bertanya apa fungsi dari besi ini. Tapi lagi-lagi pertanyaan kami tak terjawab, karena guide kami tidak tahu banyak tentang goa Belanda ini.
*salah pilih guide nih kayaknya. Hahahah..
Pada saat kami menelusuri lorong terakhir ini, ada beberapa bagian dinding goa yang di tambal (ditutup maksudnya) dengan batu bata dan semen, kemungkinan masih ada ruangan di balik tembok itu.
di pertengahan lorong, di samping kanan kami ada dua buah ruangan yang memang sengaja di tutup dengan batu bata merah dan semen. Tapi entah siapa yang menutup ruangan itu dan apa maksdunya.
Menurut penuturan guide kami, ruangan itu dulu tertutup dan di jebol oleh TNI karena penasaran ada apa di dalam sana. ternyata tidak ada apapun kecuali lorong yang belum selesai digali. Kemungkinan galian ini dilakukan oleh pihak tentara Jepang.
Kami sangat penasaran dengan ruangan yang di tutup dengan batu bata dan semen saat awal kami menelusuri lorong terakhir ini..
Di ujung perjalanan kami menelusuri goa ini, kami di lewatkan pada sebuah lorong yang kemungkinan besar adalah pusat pengendalian radio, hal ini diperkuat dengan bekas besi-besi tua penahan radio dan sebuah tuas yang telah aus temakan usia.
Perjalanan menelusuri goa Belanda berakhir disini.
Aah.. sayang, aku lupa mengabadikan moment didalam. huhuhu..

*Jangan lupa siapkan senter/alat penerangan jika anda ingin kesini.

Masih di lingkungan Tahura Ir. H. Djuanda.
Kami mampir sebentar ke jembatan gantung dekat Goa Belanda.
Jembatan ini tepat berada di sebuah air terjun dengan bebatuan hitam yang tampak tajam.
 Kemudian kami menuju ke sebuah penampungan air yang nanti di teruskan ke pembangkit listrik tenaga air.

Jembatan gantung di Tahura Ir. H. Djuanda.
Penampungan air.

Perjalanan kami lanjutkan menuju ke Tebing Keraton. Dari lokasi kami saat ini, kami harus keluar wilayah Tahura terlebih dahulu. Tapi tenang! Tiket masuk kawasan tebing Keraton ini sudah termasuk tiket masuk di Tahura Ir. H. Djuanda tadi (Rp 64.000,00/4 orang)
 Jalur menuju tebing Keraton sangat menanjak dan tiba-tiba muncul polisi tidur. hahahaha...
 *kurang ajar banget tuh polisi tidur muncul setiap saat, di setiap tanjakan pula. kan syakidd.. huhuu...

Setelah perjalanan menanjak panjang dan melelahkan, wuallaaa...
Sampailah kami di Tebing Keraton!
Yiihaa...
Hahahha..
Tapi, kami masih ditarik uang parkir Rp 5.000,00 disini. Kan syakid...

Ujung Tebing Keraton tampak jelas.

Pemandangan dari atas Tebing Keraton. Inframe: ??

Yess!! Pose kemenangan. Hahahah...
Hal pertama yang terbersit di benak saat memasuki kawasan Tebing Keraton ini adalah... Hasil foto-foto di banner nya MIRIP!! dengan pemandangan di Taman Buah Mangunan.
Huhu...
Tapi, ternyata memang hasil fotonya keren kok.
Nggak nyesel kesini.
Hahaha...
Wes.. Pokokmen kita foto-foto ceria disini. Hahaha..

Selesai berfoto ria di Tebing Keraton, kami langsung turun menuju Bandung. Di pertengahan perjalanan kami mampir warung makan Tegal untuk mengisi perut. Hahahah...

Sesampainya di Bandung, kita mampir dulu di Gedung Sate. Kita foto-foto cihuy dulu disitu. Hahaha...
Bang Ibra juga menceritakan sejarah panjang dibangunnya Gedung Sate ini dari rencana perpindahan pusat kepemerintahan Belanda dari Batavia ke Bandung, hingga proses pembangunan Gedung Sate ini.

Sedikit cuplikan postingan Bang Ibra di akun Facebooknya :

Gedung Sate
Gedung ini punya nilai sejarah dinegeri kita ini sebab dahulu hindia belanda membangun gedung ini untuk dijadikan kantor pemerintahan hindia belanda menggantikan yang di betawi namun karena adanya perang dunia 1 maka pemindahan pusat pemerintahan hindia belanda dari betawi ke bandoeng ditunda.
Gedung ini dibangun dengan begitu banyak pekerja, 150 orang diantaranya didatangkan langsung dari daratan china sebagai tukang ahli, ahli ukiran ornamen ornamen yang masih bisa kita lihat sampai saat ini aseli.
Gedung yg dibangun dengan 2000 orang pekerja yang dibayar bukan kerja paksa, total biaya pengerjaannya itu senilai 6 juta gulden dengan masa pengerjaannya selama 4 tahun. Oleh karena itulah tiang penangkal petir diatas menara pandang yg didalamnya terdapat sirene yang dahulu bisa terdengar sampai 20 km suaranya itu dibuatb spt tusukan sate dengan berisi 6 bulatan menandakan gedung ini menghabiskan dana totalnya 6 juta gulden belanda.

Oleh karena nilai sejarah gedung ini maka banyak wisatawan yang merasa wajib untuk mengunjungi gedung sate ini, minimal sekedar melihatnya dari depan seperti ini.
Gedung ini adalah kantor gubernur Jawa Barat jadi agak perlu ijin buat bisa masuk sekedar melihat lihat jejak sejarahnya.
Jadi wisatawan cukup dengan berfoto didepan gerbangnya saja.
Nuhun temanku dari Jogjakarta dan medan yang sudah wisata sejarah kota kami ini beberapa waktu lalu.

Mejeng bentar di depan Gedung Sate.
Setelah berfoto-foto dan bercerita panjang lebar, akhirnya kami saling berpamitan. See you next time.
Huhu...

Lembang (Kesasar di Jawa Barat part 1)



Rabu (27 Januari 2015) minggu lalu, aku bingung mau ngapain. Di Bandung enggak punya bayangan mau kemana aja.
Ya udah deh, aku pinjem motor kakak sepupu aku buat keliling Bandung.
Berdua bareng adik sepupuku, kita berdua muter-muter aja sih.
eh, tau-tau sampai di Lembang.
Uwoow... hahaha..

Rumah Hobbit yang lagi ngehitz itu.

BUKAN JALAN UMUM !!!
 
Eh.. Kita ngelewatin Farm House nih. Yaudah deh, kita masuk aja.
Lumayan mahal sih dengan luasan lahan segitu dan farm nya cuma seuprit. Tiket masuk untuk berdua dan parkir motor seharga Rp 45.000,00.
Diluar ekspektasi.
Iya sih, memang, di setiap sudutnya bagus untuk foto.
Tapi yang namanya kecewa ya tetep aja kecewa.
Weekday pun padet banget kayak weekend.
Okelah. Aku kasih ulasan singkat aja ya soal FarmHouse.

Nih, tiket parkir motornya.

Gini nih...
Ketika kita masuk, kita akan ditarikin tket masuk plus parkir. nah, si tiket ini nanti dapat ditukarkan susu murni (Katanya sih, tapi setelah aku minum, akunya jadi mules. Padahal aku tiap hari minum susu segar loh! langsung dari peternakan.) atau satu sosis ukuran sedang (menurutku sih ukurannya nggak sepadan sama harga tiketnya. Hahahah..).
Setelah menukarkan tiket dengan susu, kami berjalan-jalan menyusuri jalan pavingblock dengan akar-akar kayu tua sebagai pagarnya.
Ada banyak tempat duduk dari kayu besar di samping kanan-kirinya (yang pasti buat modalin nih kayu-kayu sama akar-akar sebagai pagar enggak sedikit yaw).
Ada sebuah rumah mungil bergaya eropa. tempat ini dijadikan tempat tennant untuk berjualan pernak-pernik milik mereka. Kalian bisa membeli gembok cinta di tennant ini.
Kalian juga bisa ke halaman belakang rumah mungil ini. Disana ada pagar besi yang sudah tergantung banyak gembok warna-warni. Di ujung jalan, kalian akan menemukan sebuah tempat seperti tempat utama penggantungan gembok cinta.


Taman gembok cinta.

Gembok-gembok cinta yang terpasang dalam 2 bulan sudah sangat banyak.


Oke, lanjut.
Dari situ, kita menuju ke bangunan besar (terdapat beberapa rumah berarsitektur Eropa). Bangunan pertama berisikan tempat oleh-oleh dan tennant roti bermerk tertentu. Bangunan ke dua dan ketiga adalah restoran ala Eropa. Di depan bangunan utama ada dua buah bangunan berlantai dua. Bangunan pertama, ruang depan digunakan untuk tennant juice. Ruang belakang digunakan untuk tennant pernak-pernik rumah. Lantai atas digunakan untuk penyewaan kostum Eropa dan tempat foto. Bangunan kedua untuk beberapa tennant (Ubi bakar dan apa aku lupa.).

Salah satu spot foto yang lumayan mainstream.

Di belakang restoran, kalian dapat menemukan taman bunga dan taman anggrek (vertical orchid garden).
Di ujung taman, ada jalan tembus menuju ruangan merokok dan tempat bersantai.

Satu hal nih, memang sih disediakan ruangan merokok. Tapi ASBAK nya mana??

Restoran terlihat dari tempat khusus merokok.

Keluar dari ruangan merokok, kalian akan menemukan air terjun buatan. Jika anda mengambil ke kiri (ke kanan jika dari pintu masuk), kalian akan menemukan tennant Rumah Sosis, taman kaktus, mini farm, dan yang paling fenomenal adalah rumah Hobbit. Pengen sih sebenernya foto di rumah Hobbit nya. Tapi karena antri nya mengulaarr.. Jadi males deh. Badmoodnya nambah. Hahaha...

Kelinci di mini farm.
Karena baru diresmikan bulan Desember 2015 kemarin, FarmHouse masih dilakukan pembenahan di beberapa sudut. Bagian yang terlihat jelas sedang diperbaiki adalah bagian mini farm. Mungkin akan ada tambahan ternak baru nanti, karena sedang dibuat kandang di bagian barat minifarm.


Sayang, karena sudah badmood dari awal, aku nggak ngambil banyak foto. Terlalu ramai dan sempit.
Tanaman-tanaman di taman rumah hobbit juga banyak yang menghitam. Entah mati atau layu. Nggak sedap lah dipandang. Kemudian rumput-rumput di bagian samping ruang khusus merokok juga terlihat sekarat. Terlihat sengsara karena terlalu sering terinjak, sehingga warnanya hijau cenderung coklat.
Dilihat dari tata kelola tempat dan bangunannya, FarmHouse menghabiskan modal yang sangat banyak. Penilaianku sama sepupuku aja sih.

Farm House kurang cocok untuk wisata keluarga sih menurutku. Lebih cocok untuk hunting foto aja.
Huhuu...
Enggak puas deh kesini.


 Enggak mau lama-lama di FarmHouse, kami langsung cuss..
Kemana?
Haha..
Kami juga enggak tau.
Yaudah deh, kita jalan ke Jl. Maribaya.
Disana kita mampir ke Taman Bunga Begonia.
Asiiikkk...
Hahahaa...

Taman Bunga Begonia dengan latar belakang Patahan Lembang.

Murah loh, masuk cuma Rp. 8.000,00 aja (dibandingkan FarmHouse).
Saat masuk, di sisi kanan ada tempat topi anyaman. kalian boleh kok meminjamnya untuk berfoto atau berlindung dari panas, karena ini termasuk fasilitas. Eits.. Ingat! Jangan dibawa pulang. Hahaha..

Mata puas temanjakan dengan tatanan bunga-bunga cantik, ditambah background taman ini adalah Patahan Lembang.
Waahh..
Cantik banget!!!
Disini pihak pengelola bermain dengan penataan warna bunga, tempat duduk, dan tempat bermain yang asik untuk berfoto.

Taman yang cantik dengan taman bermain.

Cafe pojok Glory tampak dari depan.

Selain taman, ada juga cafe disini. Namanya cafe pojok Glory.
Kami nggak pesen apapun sih disini, karena harganya enggak cocok dikantong.*tsaahhh...
Hahaha.. Kami numpang duduk aja sih disini.
Tempatnya enak buat santai. Cafe ini dibuat dari kayu-kayu dan ada ukiran di pintu masuknya.
Ada dua patung seksi juga sih. hahaha..
Eh, iya.  kursi dan mejanya juga dari kayu tebel gitu. Jadi serasa di rumah deh.
Selain cafe, disini juga disediakan aula yang lumayan luas, toilet dan mushola.
 

Cafe Pojok Glory

Jalan yang menghubungkan Taman Bunga Begonia dengan lahan pertaniannya.

Kental dengan suasana Imlek.

 Karena mendekati Imlek, pihak pengelola menghias taman dengan lampionilampion merah dan barongsai mini di tengah taman.

Oiya, kalau mau foto Pre-wedding disini bisa loh. ada banyak spott untuk foto, yang sepertinya memang di design untuk pre-wedding spot. cukup keluarin kocek Rp 250.000,00/2 jam pemotretan.

Selain taman bunga dan cafe, disini ada kelincinya juga. Kalau mau berinteraksi sama si imut-imut ini pengunjung harus membeli tiket seharga Rp. 10.000,00 saja. Disini juga disediakan sayur-sayuran segar yang baru di petik dari lahan pertanian yang letaknya di belakang Taman Bunga Begonia.

Taman Bunga Begonia cocok untuk berwisata bersama keluarga, kerabat, pacar ataupun sahabat.

Selada yang mereka budidayakan.

Blusukan ke Madura (Main ke Jatim part 6)


Pemandangan indah dari Gili Nyai.

Setelah asik main di pantai Batu Bengkung, kemudian kami melanjutkan perjalanan ke pulau Madura sore itu juga. Namun kami harus berpisah, aku dan mas Ris berboncengan, mbak Arris dan pak Eko menggunakan bus, sedangkan mbak Reni dan mas Sadam tidak bisa menemani kami.
Huhu.. sedih harus berpisah sekarang.

Kami bertemu di jalan setelah menyeberangi jembatan Suramadu. Berkendara bersama-sama dengan puluhan kendaraan roda dua menuju destinasi wisata lainnya (so pasti temen baru. yeah!!).
Setelah semua komplit, yukk mari cuss ke tempat lain (akunya nggak tau nih bakalan dibawa kemana. Hehehe...).
Ternyata kami dibawa ke lokasi Api abadi di Madura. yuhuu... Malem-malem jadi anget. hahaha...

Api Abadi Madura


Ada dua titik sih. Pertama kami mengunjungi titik nyala api yang memang sudah ramai dengan warung oleh-oleh dan penjual jagung. Titik ke dua, agak jauh dari titik pertama. Titik kedua sangat sepi, dan dekat dengan makam. Aku tidak dapat melihat apa saja yang ada di sekeliling karena sangat gelap. Mungkin ladang warga ada di sekitaran api abadi tersebut.

Setelah kami puas mengunjungi tempat ini, kami bergegas untuk istirahat di rumah mbak Arris di Madura.

Waktu subuh pun tiba. Y uhuuu...
Petualangan pun dimulai...
Yuk.. Cuss hunting sunset di Pamekasan....
Nangkring di atas tanjung yang aku lupa namanya, Hehe.. Nyebarlah semua ke penjuru tanjung untuk berfoto ria.

Sunrise di Pamekasan

 Prau sudah siap berlayar (halah.. padahal pake mesin diesel. Hahah..).
Saatnya berpetualaang!!!

Sebelum menaiki perahu nelayan, kami mampir sebentar di tempat penjemuran hasil laut. Kami hunting foto human interest disitu. Heuheu..
Lainnya menggunakan kamera DSLR, akunya pede aja pake camera digital. toh hasilnya juga lumayan (daripada lumanyun).

Nelayan yang sedang menjemur hasil laut.


Jalan menuju dermaga sederhana milik nelayan.
Niatnya mau ngambil foto, malah difoto.Hahahaha...


Barisan prau khas Madura tertambat.
Setelah semuanya naik perahu, ternyata kami harus menunggu lama.
Kenapa?
Karena perahu tidak dapat ke tengah lautan. Air kurang tinggi.
Akhirnya para punggawa pun harus turun ke air untuk mendorong perahu agar mau ketengah.
Yiiihaaa...
Perahu sudah mengapung. Saatnya menjadi pelaut dalam sehari..
hahaha..

Yeaayy.. Jadi pelaut seharian. Hahaha...
Destinasi pertama adalah....
Gili Nyai. Hahaha...
2 jam perjalanan menggunakan perahu bermesin diessel.
Agak bouring juga sih. Soalnya para penumpang ada yang mabuk dan semuanya tertidur. Wolooo... aku dewean rek...
Wah.. Asiikk..
Nggak jadi sendirian. Hahahaha..
Nelayannya ngajakin ngobrol gitu. Ya walaupun kadang bahasanya susah aku pahami.
Selain karena aku nggak terlalu paham nahasa Madura pesisir, suara bapaknya juga tenggelam karena bising suara mesin diessel.
Huhu..
Tapi asik kok. Bapaknya cerita dulu salah satu pulau yang dinamai Gili Keramat ada 2 makam yang memang dikeramatkan. Ada beberapa lampu di lautan yang dipasang khusus untuk menerangi Gili Keramat. Tapi sekarang lampu-lampu itu sudah lenyap dijarah orang-orang tak bertanggung jawab.
Si bapak juga bercerita bahwa dulunya Gili Keramat ini memiliki 1km bibir pantai dengan pasir putih. Tapi sekarang lenyap karena pasir yang ada di Gili Keramat telah disedot dengan alat penghisap pasir di perahu-perahu penambang pasir laut. Hiiisshh.. kejem banget sih!!
Sekarang gili Keramat tinggal batuan-batuan karang yang kadang timbul-tenggelam tersapu ombak.
Ditengah perjalanan, kami melihat sekumpulan perahu penambang pasir laut yang berbaris membentuk lingkaran.
Mereka menambang pasir bagai semut. Disitu ada gula, pasti semut datang bergerombol.

Mungkin para pembaca bertanya-tanya kenapa pasir laut ditambang?
Hal ini dilakukan karena di pulau Madura tidak terdapat gunung berapi (vulkanik) yang dapat menghasilkan pasir-pasir dan batuan berkualitas baik. Struktur batuan di pulau Madura adalah batuan kapur.
Warga yang ingin membangun rumah harus mendatangkan pasir dari daerah Jawa Timur atau lainnya. Harga Pasir dari luar daerah sangat mahal karena transportasinya memang mahal.
Jadi, cara lainnya adalah mengambil pasir laut. Selain lebih murah, mereka juga dapat mengambilnya dari dekat rumah.
Duh.. Miris sebetulnya.

Oke, Kembali ke destinasi pertama.
Gili Nyai berada dekat dengan Gili Pandan dan Gili Keramat.
Gili nyai adalah pulau yang berpenghuni. Gili pandan dan Gili keramat adalah pulau tak berpenghuni.

Melaut lagi

 Yeaaayy!!!
Merapat di Gili Nyai vrooh!!
Hahahha...
Sumpah, keren abiss..
Bener-bener serpihan surga yang hilang!!

Seperti laguna, seperti teluk, pokoknya indaahh...
Saat kami turun dari perahu, kami melihat ada sebuah tempat penampungan ikan kecil dan ada beberapa ibu-ibu disana.
Ternyata mereka sedang mengolah ikan teri !
Hahah..
Sembari mengamati proses pengolahannya, kami ditawari ikan-ikan ekor kuning dan cumi-cumi (menurut mereka limbah, karena yang mereka olah adalah ikan teri).
Aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini.
Yo'i vrooh...
Jiwa survivalnya muncul vrooh!
Hahahha...
Aku langsung mencari kayu kecil untuk menusuk cumi-cumi yang diberikan secara cuma-cuma itu. Hahahah...
Langsung aku panggang di perapian.
*nunut masak mbok! haha..
Pas lagi asik-asiknya bakar cumi, ada ibu-ibu (mungkin umur 70an ke atas lah ya), mengajakku berbincang.
Pakek bahasa lokal pesisiran!!
Mampus aku!
Gagal paham Boss!
Hahaha..
Dan nggak ada satupun dari mereka yang bisa berbahasa Indonesia. kami sebagai pendatang (wisatawan lokal) merasa berada di negara lain di dalam negara sendiri (aku kutip dari mas Ris).
Nyesek rasanya. Masih satu kewarganegaraan tapi kok nggak bisa saling berkomunikasi.
Parahnya, aku pakek bahasa tarzan pun si ibu tetep nggak paham. Hahaha..
Yowislah. Bedo frekuensi.
Percakapan-- END!

Merebus ikan teri.

Menjemur ikan teri.


Keren yah!
Nelayan disini menggunakan kerang sebagai pemberat di jaring-jaring mereka. Kreatifitas dalam keterbatasan.

Aah... I love this picture!



 Setelah puas berkeliling di Gili Nyai, kamimelanjutkan perjalanan ke Gili Pandan. Gili yang tak berpenghuni. Konon, dulu banyak tanaman pandan laut disini. Tapi saat kami berlabuh di Gili Pandan, tak satupun tanaman pandan laut yang saya temukan. Bahkan pulau ini kering.
Hanya butuh waktu beberapa menit untuk mengelilingi pulau ini. pasirnya begitu putih dengan ombak yang tenang.

Gili Pandan dari tengah laut.


Dia nunjuk apaan? Entahlah.

So... Sepiii...

Mulai berkeliling Gili Pandan.

Struktur lapisan tanah di Gili Pandan

Enaknya bersantai di tepi pantai layaknya berada di pulau pribadi.

I feel free...

Perjalanan terakhir hari itu di Gili Pandan sangat mengesankan.
Hari sudah beranjak sore. Kami harus mengakhiri kesenangan kami disini.
Perjalanan mengarungi lautan selama 2 jam kembali kami mulai.
Ternyata Keseruan tak hanya berakhir disiru saja.
Hahaha..
Perahu kami tidak dapat merapat ke daratan. Kami harus turun dan berjalan menuju daratan dengan air laut setinggi paha kami. Hahahah...
Yeaay..
Seruuu... musti basah-basahan dulu sebelum mencapai daratan. Hahahaa...
Setelah itu, kami kembali ke rumah mbak Arris untuk makan malam.
seesai makan malam, kami berpamitan untuk langsung melakukan perjalanan menuju Jogja.

Yo ketoki cen ngebuuut banget sih, dua hari dapet 5 destinasi. Jaraknya pun lumayan jauh.
But, main-main ke gili-gili adalah bayaran atas semua kelelahan yang telah dilalui. Hahahaha...

"I will go back here!"
Itu kalimat yang terucap di hati saat akan meninggalkan Gili Pandan.