![]() |
| Ruang istirahat pengunjung museum. |
Hari Kamis 4 Februari 2016 kemarin aku iseng blusukan ke desa-desa atas Kab, Sleman.
Eh.. nggak taunya malah masuk kawasan wisata Kaliurang. Hahahah..
Ora tuku tiket mlebu dadine.
Jalurnya lumayan membingungkan, masuk-masuk ke perkampungan warga.
Yowes lah, terlanjur masuk Kaliurang. Sekalian muter-muter.
Sesampainya di atas, ada papan penunjuk arah ke museum Ullen Sentalu.
Merasa penasaran, akhirnya aku ikuti petunjuk arah itu.
![]() |
| Pintu masuk Museum Ullen Sentalu. |
Taraa...
Sampailah aku di muka Museum Ullen Sentalu.
Dari parkiran kendaraan bermotor, aku menuju ke pintu masuk. Ternyata aku di arahkan ke sebelah kiri pintu masuk untuk membeli tiket terlebih dahulu.
![]() |
| Jalan menuju loket. |
FYI : Hari Senin Museum ini tutup, sama seperti Museum Merapi yang letaknya tak jauh dari Museum Ullen Sentalu.
![]() |
| Harga tiket dan jam buka Museum Ullen Sentalu. |
![]() |
| Tiket masuk wisatawan domestik dewasa Museum Ullen Sentalu. |
Setelah membeli tiket seharga Rp 30.000,00 rupiah (wisatawan lokal dewasa), aku kembali menuju ke pintu masuk Museum UllenSentalu. Harga ini termasuk fasilitas pemandu dan wellcome drink. Mulut gatel pengen tau, aku bertanya kepada mbak-mbak penjaga pintu masuk museum (bukan patung ya. heheh..). Aku mendapatkan penjelasan bahwa untuk mengunjungi museum ini, wisatawan akan mendapatkan seorang pemandu untuk maksimal 25 orang per grup tour. Jika anda bersama rombongan 50 orang misal, rombongan anda akan dibagi menjadi 2 grub tour dengan waktu jeda sekitar 15 menit.
Untuk weekday (Selasa-Jumat), jeda dari setiap grup tour adalah 15 menit, dan untuk weekend jedanya adalah 5 menit saja.
FYI : Ada peraturan tertulis di Museum ini. Yaitu beberapa larangan untuk wisatawan yang berkunjung ke museum ini adalah : DILARANG MEMOTRET/MEREKAM/VIDIO, MENYENTUH KOLEKSI, MEROKOK, MAKAN DAN MINUM.
Larangan-larangan ini ditempel di setiap pintu masuk area.
Kenapa tidak boleh berfoto?
Hal ini dikarenakan barang-barang koleksi milik museum adalah hibah dari keraton (sebagian), jadi memang dilarang untuk mengabadikannya.
Tapi tenang..
Ada beberapa tempat kok untuk foto-foto. Tapi di luar ruangan. heheh...
Luas area museum ini sendiri adalah 1,2 hektar dengan kawasan museum, taman, butik dan rumah makan western mennu.
![]() |
| Informasi pengunjung. |
Kenapa diberikan jeda untuk grup tour?
Hal ini dilakukan untuk memaksimalkan kenyamanan wisatawan dan mengurangi resiko pencurian (dapat diawasi dengan maksimal karena koleksi museum tidak boleh dipegang). Selain itu, karena petualangan ini akan melewati sebuah lorong goa, maka pembatasan pengunjung setiap tour dan jeda pertour perlu dilakukan agar pengunjung mendapatkan kenyamanan maksimal (feelnya dapet laah.. dan tidak kekurangan oksigen. hahhah.. ben abab e ora entek)
Karena aku datang sendirian, maka aku bergabung bersama teman-teman dari kota Bandung.
Yuhuu.. waktunya menjelajah museum!!
hahah...
Pintu masuk terbuka, disambut senyum ramah pemandu cantik dari balik pintu.
*eeaa..
Mungkin kalau aku laki-laki, aku bakalan klepek-klepek deh. Hahah...
Oke cuss..
Setelah pemandu memperkenalkan diri (kebetulan aku dan kawan-kawan dipandu mbak Sulvi kalo nggak salah. hahahaha.. aku kan pelupa), kami di ajak menelusuri lorong goa bawah tanah berdinding batu alam dan beratap rendah (di awal) bernama Goa Selagiri (Sela berarti batu, giri berarti gunung dalam bahasa Jawa). Goa Selagiri dibangun dengan bebatuan vulkanik dari tambang batu di sekitar museum dengan menggunakan tenaga ahli lokal.
Atap muka goa dibuat rendah (memaksa kita menundukkan kepala saat memasuki area goa) agar kita selalu tau diri dan tidak sombong.
Saat memasuki area goa, kami disuguhi arca-arca asli (pinjaman) maupun replika, alat-alat musik tradisional hibah dari keraton Jogja dan berbagai lukisan tokoh-tokoh Kerajaan Mataram dan lukisan para penari.
Oleh pemandu, kami dibawa masuk ke zaman kerajaan Mataram di masa lalu, Mulai dari berdirinya kerajaan Mataram Hindu hingga Kerajaan Mataram terpecah menjadi empat Kerajaan hingga kini.
Di dalam goa Selagiri disuguhkan banyak lukisan-lukisan (buatan tim pelukis museum yang di contoh dari foto-foto asli di dalam kerajaan) tentang Raja Hamengkubuwono IX, pangeran Bobi, dan puteri-puteri Mataram lainnya.
Di penghujung goa, kita akan meniti beberapa buah anak tangga menuju ke atas. Anak tangga ini merefleksikan anak tangga-anak tangga di pemakaman Raja-Raja di Imogiri Bantul.
Setelah menjelajahi goa Selagiri, pengunjung dibawa ke area kedua, yaitu Kampung Kambang. Sesuai namanya, area ini dibangun dengan konsep perkampungan yang mengambang di atas air. Pengunjung akan merasa berada di atas air. Kampung Kambang yang terletak diatas air (mengambang) dibangun menyerupai kampung rumah orang Kalang yang tinggal di ibukota kuno Mataram Kini atau Mataram Islam periode Pertama (Mataram Islam periode Kedua adalah kurun waktu setelah perjanjian Giyanti) di Kotagede dengan jalanan sempit menyerupai gang dan dibuat berkelak-kelok menyerupai struktur labirin Minoan. Pengunjung yang tidak ditemani oleh educator tour akan mudah tersesat.
Rumah Pertama yang dikunjungi adalah ruang pamer koleksi Keraton berupa pakaian pengantin Dodot di era Mataram lama dan Mataram Islam dan beberapa topi koleksi milik Keraton.
Di rumah ke dua, pengunjung akan dimanjakan beberapa koleksi batik dari Keraton Solo.
Rumah ke tiga menyajikan koleksi batik-batik dari keraton Jogja.
Di rumah ke empat para pengunjung akan disuguhi puisi-puisi penyemangat untuk Puteri Patah Hati disini. Puisi-puisi ini berbahasa Indonesia dengan gaya penulisan masa Belanda dan bahasa Belanda. Puisi-puisi ini di terjemahkan ke dalam beberapa bahasa yaitu bahasa Indonesia, Belanda, Inggris dan Jepang. Ruangan ini menceritakan seorang Putri Raja yang ingin menikah dengan putra Raja dari selir yang ditentang oleh ibu permaisuri selama 20 tahun.
Di rumah terakhir kita akan memasuki ruangan Puteri Dambaan. Berbeda jauh dengan cerita Puteri patah hati, di ruangan ini pengunjung akan diajak menyelam pada masa Puteri Kembang Mataram semasa hidupnya. Sang Puteri sangat modis, cantik alami, pandai menari hingga disebut sebagai Mataram Blosom's princes. Selain pandai menari, sang putri juga terkenal senang membantu ayah dalam kegiatan politik kerajaan.
Sang putri menjadi sorotan karena hobi menunggang kuda. Konon, rakyat rela berjajar di pagar istana untuk melihat sang Putri berlatih menunggang kuda.
Sang Putri Bunga Mataram ini menguasai 3 bahasa sekaligus (Belanda, Inggris dan ... aduh lupa. hahaha.. Bahasa Perancis sepertinya).
Tak hanya menjadi kembang pada masanya, tapi beliau juga sering menolak pinangan (antara lain dari alm, raja Hamengkubuwono IX dan IR. Soekarno). Namun akhirnya pinangan yang diterima adalah pinangan dari seorang perwira TNI pada masa itu (masih dari kalangan keraton) dan tinggal di Bandung.
Beliau tutup usia pada tahun 2015 lalu.
FYI : Ruang Putri Dambaan pada 2002 yang diresmikan oleh GRAy Siti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani sendiri (sang Puteri Dambaan).
Dari Kampung Kambang, pengunjung diajak beristirahat di sebuah bangunan yang di design dengan arsitektur Jawa kental. Disini pengunjung akan disuguhkan minuman yang katanya ramuan awet muda, Yaitu Jamu Ratu Mas. Resep Rahasia Jamu Ratu Mas ini konon ciptaan dari GRAy Siti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani yang khusus disuguhkan saat jamuan residen Belanda di Solo.
![]() |
| Jamu awet muda Jamu Ratu Mas |
![]() | |||
| Ruang istirahat khusus pengunjung Museum Ullen Sentalu. |
![]() |
| Bangunan di ujung jalan adalah kediaman pemilik Museum Ullun Sentalu. |
Masuk ke area terakhir museum, pengunjung akan di suguhi lukisan-lukisan Raja Hamengkubuwono X bersama sang isteri. Selain itu, ada beberapa lukisan pengantin perempuan yang tengah mengenakan dodot.
Ada dua patung pengantin perempuan di ujung museum ini. Di ujung sebelah kiri, ada patung pengantin perempuan dengan paes Ageng gaya Keraton Solo, sedangkan patung di ujung kanan adalah patung pengantin perempuan dengan gaya dodot Keraton Yogyakarta.
Tour berakhir pada sebuah panggung terbuka yang biasanya dibuka untuk kelas menari anak-anak sekitar museum. Panggung terbuka ini dilatarbelakangi sebuah cuplikan relief Gandavyuha, panel 30, lantai 2 candi Borobudur. Relief ini menggambarkan seorang kaya raya yang meninggalkan seluruh hartanya untuk belajar Budha kepada 12 guru.
Mengapa pemasangan relief dibuat miring?
Hal ini menggambarkan keadaan manusia di jaman sekarang yang lupa akan tradisi dan silau akan harta.
Pengunjung bebas berfoto ria disini. Hahai...
![]() |
| Cuplikan Relief Gandavyuha, panel 30, lantai 2 candi Borobudur. |
![]() |
| Miring yuuukk... |
Tour berakhir disini. 50-60 menit yang sangat berkesan.
Terima kasih sudah berkenan membaca :)







































