Minggu, 31 Januari 2016

Main ke Jawa Timur part 1 (Situs Matesih)

Hari Kamis 30 Juli 2015,
Pagi itu (jam 06.00 WIB kurang atau lebih sedikit laah..) aku bersiap melakukan soloriding ke Jawa Timur dengan Vario 110cc tahun 2006.
Rencananya sih via Jogja-Solo-Sarangan-Ngawi-Surabaya. Tapi saat direalisasikan, jalurnya berubah. Hahaha... Keseringan nyasar. mungkin karena kurang fokus (halah. bukan korban iklan ya. hahaha...)

Dari Jogja menuju Oslo (Solo) sih lancar jaya. tapi dari Oslo ke Karanganyarnya bingung. hahaha... Maklum orang Jogja taunya arah lor-kidul-wetan-kulon berpatokan ke gunung Merapi, pas keluar kota ya bingung arah. Nah, dari sinilah perjalanan ala sasar-sasaran (kakean nyasar) dimulai.
Dari Oslo aku mengambil jalur arah Karanganyar. Memang sih, harus melingkari timur kota Solo dulu. Entah kenapa aku malah keterusan sampai hampir ke Solo Baru, hahaha..
Akhirnya setelah sadar jalurku melenceng, aku gunakan aplikasi HereMaps bawaan Lumia 520 untuk mencari jalur menuju ke Sarangan. Oke sip. Jalur sudah ditemukan. tapi yo kui, ndadak nyemplung dalan ndeso sek, trus ngelewati pinggiran embung opo ora reti.Entah embung atau tanggul di sekitaran jalur alternatif dari Solo menuju ke Sarangan.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam dan kebetulan ada pom bensin satu-satunya di jalur itu, aku mengisi kedahagaan (halah) si Item dulu (panggilan kesayangan untuk Varioku). Perjalananpun berlanjut. Jalanan beraspal ini agak sedikit menanjak. Perlahan aku nikmati.
Ternyata saat memasuki kawasan Matesih, ada situs Megalithikum yang sangat luas disitu. Aku berhenti sejenak, sambil mengambil gambar kawasan ini. Ada banyak Kubur Batu yang letaknya agak berjauhan. Ada yang menggerombol menjadi satu kompleks pemakaman dan sudah dibebaskan tanahnya dari warga. Namun itu baru secuil lahan dari total 5 hektar lahan yang ada kubur batunya. Karena penasaran, aku bertanya sejarah (mungkin prasejarah) ditemukan situs ini kepada seorang penjaga disana (yang aku lupa tidak bertanya siapa namanya. sebelum beliau bercerita, disodorkanlah buku besar dan pulpen sebagai buku kunjungan (saat aku baca, memang sedikit sih yang berkunjung ke tempat ini).
Koleksi foto di pos penjagaan
 

Kubur batu yang terletak di tengah-tengah persawahan milik warga

Kubur Batu dengan ukuran lebih besar dari yang lainnya, lokasi kubur batu ini sudah dibebaskan.

Cagar Budaya Matesih
Pak penjaga menuturkan banyak hal mulai dari tahun penemuan, luas lahan situs Matesih, luas lahan yang sudah dibebaskan hingga sungai purba yang dikeramatkan oleh penduduk. Penuturan yang menarik menurut saya adalah adanya batu dengan lubang di tengahnya seperti lumpang (alat tumbuk padi dari batu atau kayu). Namun, beberapa minggu setelah ditemukan batu lumpang, batu itu menghilang. Lho.. kok bisya? Tidak ada yang mengetahui keberadaan watu lumpang itu hingga kini. Dugaan sementara adalah batu itu dipecah untuk dijadikan bahan bangunan (mungkin karena pengetahuan masyarakat yang minim mengenai peninggalan bersejarah).
Pak penjaga pun menyarankan untuk berkeliling ke area persawahan milik warga yang letaknya berada di sekitar Situs Matesih. Oke. let's go!
Memang benar, tenyata hamparan sawah dengan tanaman padinya yang menghijau tampak dihiasi mahkota-mahkota hitam di tengah-tengahnya. Hahaha.. Maksudku ya batu-batu besar yang berdiri tegak dan disusun melingkar, posisinya tepat berada di tengah lahan persawahan warga.
Karena merasa sudah puas, lalu aku melanjutkan perjalanan menuju Surabaya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar