![]() |
| Jembatan untuk pejalan kaki sungai Brantas yang sudah lapuk. |
Setelah puas menikmati hamparan hijau bermahkota hitam di Matesih, aku melanjutkan perjalanan ke Surabaya.
Sesampainya di Nganjuk, aku berencana untuk hunting sunset di jembatan tua sungai Brantas. Ternyata memang jembatan ini memang begitu tua, bagian tengah jembatan ini sudah ambles, namun masih tetap digunakan pengendara sepeda motor, sepeda kayuh dan pejalan kaki untuk menyeberangi sungai itu.
yang menarik dari bagian jembatan ini adalah, jembatan bagian pejalan kakinya sudah rusak termakan usia. Potongan-potongan kayu-kayu besar yang digunakan sebagai alas aspalnya sudah sangat tua dan tak jarang sudah hilang.
Karena hari masih terang, aku putuskan untuk berkeliling di sekitar jembatan tua itu.
Tak disangka aku menemukan bangunan tua berarsitektur Belanda di sisi kiri jalan, tepatnya dibelakang warung burung hias dan pencucian motor. Gedung itu bertuliskan "RUMAH PEMBANTAIAN". Wow.. ngeri banget. hahaha... Hal yang terpikir di benak pertama kalinya adalah bangunan ini dulunya tempat pembantaian tawanan-tawanan sekutu Hindia-Belanda. Merinding membayangkan itu.
Rasa penasaran mendorongku untuk masuk dan mencari tahu apa sejarah bangunan tua ini.
Pintu samping terbuka.
Ada sebuah bangunan di samping bangunan utama, seperti saebuah mess.
Saat aku menengok sebuah pintu kayu yang sedikit terbuka di samping bangunan utama, tercium bau anyir darah dan terlihat besi-besi tua.
"Ada apa mbak?" suara bapak-bapak dari lorong antara bangunan utama dan mess.
(Badalah... kaget aku.)
"Oh.. Nganu pak, saya tadi kebetulan lewat sini. ini bangunan untuk apa ya pak? Di depan saya lihat ada tulisan Rumah Pembantaian."
"Oh. Ini rumah pemotongan hewan mbak. Memang kan bahasa orang jaman dulu bahasanya seperti itu. Bangunan ini dibangun pemerintah Indonesia pada tahun 1946 untuk memenuhi kebutuhan daging di daerah sini mbak."
Oalaah.. hahahh..
![]() |
| RUMAH PEMBANTAIAN |
Oke. setelah selesai membahas bangunan tua berbau anyir darah itu, aku kembali ke Jembatan tua di sungai Brantas.
Sembari menunggu matahari agak turun, aku mencari tempat untuk berburu sunset, sekaligus killing the time sebelum memasuki kota Surabaya yang crowded sih. Hahahah...
Widiw... Mentari sudah mau beranjak ke peraduan nih. Siapin kamera pocket, dan "cekrek". hahahha...
| Sunset at Brantas's river |
"Iki mau seko pasar mbak, aku dodolan sego jagung. nek liane dicampur beras, nek aku jagung tok mbak."
Merasa sedikit lapar, aku membeli 1 porsi nasi jagung bungkus seharga Rp 3.000,00.
Perjalanan kembali aku lanjutkan.
Bye.. Nganjuk.
| Ibu-ibu penjual nasi jagung |

