Minggu, 31 Januari 2016

Sunset di sungai Brantas, Nganjuk (Main ke Jatim part 2)

Jembatan untuk pejalan kaki sungai Brantas yang sudah lapuk.

Setelah puas menikmati hamparan hijau bermahkota hitam di Matesih, aku melanjutkan perjalanan ke Surabaya.
Sesampainya di Nganjuk, aku berencana untuk hunting sunset di jembatan tua sungai Brantas. Ternyata memang jembatan ini memang begitu tua, bagian tengah jembatan ini sudah ambles, namun masih tetap digunakan pengendara sepeda motor, sepeda kayuh dan pejalan kaki untuk menyeberangi sungai itu.
yang menarik dari bagian jembatan ini adalah, jembatan bagian pejalan kakinya sudah rusak termakan usia. Potongan-potongan kayu-kayu besar yang digunakan sebagai alas aspalnya sudah sangat tua dan tak jarang sudah hilang.
Karena hari masih terang, aku putuskan untuk berkeliling di sekitar jembatan tua itu.
Tak disangka aku menemukan bangunan tua berarsitektur Belanda di sisi kiri jalan, tepatnya dibelakang warung burung hias dan pencucian motor. Gedung itu bertuliskan "RUMAH PEMBANTAIAN". Wow.. ngeri banget. hahaha... Hal yang terpikir di benak pertama kalinya adalah bangunan ini dulunya tempat pembantaian tawanan-tawanan sekutu Hindia-Belanda. Merinding membayangkan itu.
Rasa penasaran mendorongku untuk masuk dan mencari tahu apa sejarah bangunan tua ini.
Pintu samping terbuka.
Ada sebuah bangunan di samping bangunan utama, seperti saebuah mess.
Saat aku menengok sebuah pintu kayu yang sedikit terbuka di samping bangunan utama, tercium bau anyir darah dan terlihat besi-besi tua.
"Ada apa mbak?" suara bapak-bapak dari lorong antara bangunan utama dan mess.
(Badalah... kaget aku.)
"Oh.. Nganu pak, saya tadi kebetulan lewat sini. ini bangunan untuk apa ya pak? Di depan saya lihat ada tulisan Rumah Pembantaian."
"Oh. Ini rumah pemotongan hewan mbak. Memang kan bahasa orang jaman dulu bahasanya seperti itu. Bangunan ini dibangun pemerintah Indonesia pada tahun 1946 untuk memenuhi kebutuhan daging di daerah sini mbak."

Oalaah.. hahahh..

RUMAH PEMBANTAIAN

Oke. setelah selesai membahas bangunan tua berbau anyir darah itu, aku kembali ke Jembatan tua di sungai Brantas.
Sembari menunggu matahari agak turun, aku mencari tempat untuk berburu sunset, sekaligus killing the time sebelum memasuki kota Surabaya yang crowded sih. Hahahah...

Widiw... Mentari  sudah mau beranjak ke peraduan nih. Siapin kamera pocket, dan "cekrek". hahahha...

Sunset at Brantas's river
 Selesai kegiatan men-cekrek-cekrek *halah* aku putuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Saat akan keluar dari tanggul, aku melihat ibu-ibu yang membawa tenggok sedang duduk di pinggir jalan. Aku berbalik arah dan iseng bertanya "sade nopo bu?" ~jualan apa bu?~
"Iki mau seko pasar mbak, aku dodolan sego jagung. nek liane dicampur beras, nek aku jagung tok mbak."
Merasa sedikit lapar, aku membeli 1 porsi nasi jagung bungkus seharga Rp 3.000,00.
Perjalanan kembali aku lanjutkan.
Bye.. Nganjuk.
Ibu-ibu penjual nasi jagung

Main ke Jawa Timur part 1 (Situs Matesih)

Hari Kamis 30 Juli 2015,
Pagi itu (jam 06.00 WIB kurang atau lebih sedikit laah..) aku bersiap melakukan soloriding ke Jawa Timur dengan Vario 110cc tahun 2006.
Rencananya sih via Jogja-Solo-Sarangan-Ngawi-Surabaya. Tapi saat direalisasikan, jalurnya berubah. Hahaha... Keseringan nyasar. mungkin karena kurang fokus (halah. bukan korban iklan ya. hahaha...)

Dari Jogja menuju Oslo (Solo) sih lancar jaya. tapi dari Oslo ke Karanganyarnya bingung. hahaha... Maklum orang Jogja taunya arah lor-kidul-wetan-kulon berpatokan ke gunung Merapi, pas keluar kota ya bingung arah. Nah, dari sinilah perjalanan ala sasar-sasaran (kakean nyasar) dimulai.
Dari Oslo aku mengambil jalur arah Karanganyar. Memang sih, harus melingkari timur kota Solo dulu. Entah kenapa aku malah keterusan sampai hampir ke Solo Baru, hahaha..
Akhirnya setelah sadar jalurku melenceng, aku gunakan aplikasi HereMaps bawaan Lumia 520 untuk mencari jalur menuju ke Sarangan. Oke sip. Jalur sudah ditemukan. tapi yo kui, ndadak nyemplung dalan ndeso sek, trus ngelewati pinggiran embung opo ora reti.Entah embung atau tanggul di sekitaran jalur alternatif dari Solo menuju ke Sarangan.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam dan kebetulan ada pom bensin satu-satunya di jalur itu, aku mengisi kedahagaan (halah) si Item dulu (panggilan kesayangan untuk Varioku). Perjalananpun berlanjut. Jalanan beraspal ini agak sedikit menanjak. Perlahan aku nikmati.
Ternyata saat memasuki kawasan Matesih, ada situs Megalithikum yang sangat luas disitu. Aku berhenti sejenak, sambil mengambil gambar kawasan ini. Ada banyak Kubur Batu yang letaknya agak berjauhan. Ada yang menggerombol menjadi satu kompleks pemakaman dan sudah dibebaskan tanahnya dari warga. Namun itu baru secuil lahan dari total 5 hektar lahan yang ada kubur batunya. Karena penasaran, aku bertanya sejarah (mungkin prasejarah) ditemukan situs ini kepada seorang penjaga disana (yang aku lupa tidak bertanya siapa namanya. sebelum beliau bercerita, disodorkanlah buku besar dan pulpen sebagai buku kunjungan (saat aku baca, memang sedikit sih yang berkunjung ke tempat ini).
Koleksi foto di pos penjagaan
 

Kubur batu yang terletak di tengah-tengah persawahan milik warga

Kubur Batu dengan ukuran lebih besar dari yang lainnya, lokasi kubur batu ini sudah dibebaskan.

Cagar Budaya Matesih
Pak penjaga menuturkan banyak hal mulai dari tahun penemuan, luas lahan situs Matesih, luas lahan yang sudah dibebaskan hingga sungai purba yang dikeramatkan oleh penduduk. Penuturan yang menarik menurut saya adalah adanya batu dengan lubang di tengahnya seperti lumpang (alat tumbuk padi dari batu atau kayu). Namun, beberapa minggu setelah ditemukan batu lumpang, batu itu menghilang. Lho.. kok bisya? Tidak ada yang mengetahui keberadaan watu lumpang itu hingga kini. Dugaan sementara adalah batu itu dipecah untuk dijadikan bahan bangunan (mungkin karena pengetahuan masyarakat yang minim mengenai peninggalan bersejarah).
Pak penjaga pun menyarankan untuk berkeliling ke area persawahan milik warga yang letaknya berada di sekitar Situs Matesih. Oke. let's go!
Memang benar, tenyata hamparan sawah dengan tanaman padinya yang menghijau tampak dihiasi mahkota-mahkota hitam di tengah-tengahnya. Hahaha.. Maksudku ya batu-batu besar yang berdiri tegak dan disusun melingkar, posisinya tepat berada di tengah lahan persawahan warga.
Karena merasa sudah puas, lalu aku melanjutkan perjalanan menuju Surabaya..